Kreasi Alkohol Murah Meriah
Ada beberapa resep campuran minuman alkohol yang layak dicoba saat ngumpul bareng temen-temen. Yang ini saya kumpulin resep murah-meriah, teruji, dan tetep nikmat. Meski mengandung alkohol bukan berarti ini minuman sial apalagi haram. La wong minum air putih sambil makan sate babi termasuk haram. Ato minum teh tawar sambil bunuh orang weww, lebih haram lagi. Makan nasi putih minum air putih sambil mengumpat-umpat orang juga haram. Ato megang gelas berisi air putih sambil liat Redtube juga termasuk haram. Jadi, seharam-haramnya minuman, tetep tergantung kitanya sendiri dalam berulah
Ndak usah khawatir ketagihan, karena minuman ini citarasanya ndak sebaik kelas minuman impor. Kalopun ketagihan, paling-paling ketagihan suasananya aja
Nah, mumpung kita masih hidup, mari kita coba teguk hasil kekayaan alam berpadu dengan peradaban manusia yang luluh menjadi satu dalam sebuah cairan nikmat ini. Menikmati hasil alam kok yo dibilang dosa. Ada-ada saja...
Happy 24!
Terima kasih Tuhan! aku masih diberikan kesempatan menatap biru langitMu, merasakan hangat pagiMu, dan larut dalam syahdunya malamMu hingga hari ini. Hari yang menandai genapnya anugerahMu kunikmati selama 24 tahun. Terima kasih yang sangat istimewa untuk kedua orang tuaku tercinta, istri tersayang, anak-anakku yang lucu, juga kepada teman-teman semuanya yang telah mengajari banyak hal akan kehidupan
Fakin iPod
Ada 3 orang pecandu iPod disekitar saya. Dan sepertinya segala macam keturunan kotak mungil nan menyebalkan bernama iPod itu ada. Dari bapaknya iPod Shuffle, kakaknya iPod Nano, adiknya iPod U2 ... Lalu mulailah kami berdiskusi…
iPod #1: Ndra, ngeburn CD Audio pake speed brapa ya?
Saya: 2x aja biar bagus
iPod #1: Haaa? Hee brapa ndra?
Saya: budek!!
iPod #2: Gue mo ke warung, lu titip apa?
Saya: Rokok Clas Mild aja
iPod #2: Haaa? Hee? titip gak?
Saya: budeek!!
iPod #3: *titulalilalet* Halow, Nia ada?
Nia: Iya, ni gue.
iPod #3: Haaa? Hee? bisa bicara dengan Nia?
Nia: budeeek!!
Hidup diantara Padi
Kadang saya ndak menyangka kalo temen-temen saya di liga Kobamtama (baca: amatmabok) adalah orang-orang berbakat. Mereka tampak biasa-biasa saja, pun gaya bicaranya juga biasa-biasa saja. Belum pernah sekalipun saya mendengar kalimat yang tinggi dari mereka apalagi hanya untuk merendahkan orang lain. Sungguh kesederhanaan yang luar biasa. Tapi dibalik itu mereka adalah jagoan 3D, fotografer, atlet, drummer, dan banyak lagi. Tak jarang dari mereka sering mengubah hal kecil menjadi indah. Mulai dari rangkaian kalimat, pembawaan yang tenang, sentuhan mereka terhadap sesuatu, hingga ekspresi mereka saat mendengarkan lawan bicara. Saya salut sekali dengan kemampuan mereka, terutama dari "inner-handsome" mereka (yah mereka cowok sih)
Senang sekali deh kalo bisa ngumpul-ngumpul. Rasanya pengen setiap hari ngumpul terus. Dari mereka saya bisa mendapat banyak sekali ilmu dan hal baru yang belum saya tahu. Seperti halnya pada suatu malam saat saya berkumpul dengan mereka. Saya sengaja membawa kamera digital, yang jujur saja sangat jarang saya sentuh karena memang tak tahu cara menggunakannya dengan baik.
Ternyata wow! saya mendapat sesuatu pelajaran yang baru dari mereka. Meski sederhana, itu sangat berarti bagi saya. Dan mungkin untuk selamanya akan selalu saya ingat. Ingin rasanya terus bertanya, tapi ah... saya menghargai privasi mereka.
Masih terkenang di kepala saya, saat memegang kamera film SLR pertama kalinya. Orang-orang disekitar saya justru mempermasalahkan merk, dan hal-hal lain yang sifatnya sebatas peralatan. Meski saya bodoh, tapi saat itu saya paham akan hasil yang bagus dan tidak. Dan kenyataannya, seringkali mereka yang gembar-gembor tak karuan itu buah tangannya tak sesuai perkataannya.
Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Apa sih yang membedakan teman-teman saya ini dengan wannabe ato para tong kosong yang seringkali berkoar-koar untuk mendapatkan aktualisasi diri dari orang lain. Dan ohh... ternyata, salah satunya adalah The Art of Listening atau ilmu mendengarkan secara aktif.
Epictetus, seorang filosof Yunani mengungkapkan:
Kita dianugerahi satu lidah dan dua telinga agar kita mampu mendengar lebih banyak daripada bicara.
GTD vs Calendar
Keberadaan aplikasi yang menganut pola GTD (Getting Things Done) belakangan ini kehadirannya dirasakan sangat berguna, terutama bagi pekerja yang selalu dikejar oleh deadline. Namun seberapa efektifkah GTD diperlukan untuk menunjang produktivitas Anda jika dibandingkan dengan pola konvensional seperti Calendar?

