Bapak Warung yang Pintar
Ternyata ndak cuman browser aja yang aneh, rokok juga ikut-ikutan aneh. Saya biasa ngerokok Clas Mild, selain paling nikmat di kategori rokok kretek mild, harganya juga lumayan terjangkau di kantong. Tapi tiga hari belakangan ini aroma asapnya aneh seperti plastik terbakar dan rasanya juga sepet. Padahal setiap harinya itu rokok dibeli di tempat yang terpisah loh.
Saya jadi inget obrolan bapak pemilik warung di perumahan Taman Cemara dulu, beliau yang senang menyebut warungnya dengan sebutan WTC ini bercerita kalo di dunia per-rokok-an juga ada aksi sabotase. Jadi sebut saja merk A merasa angka penjualannya terganggu dengan merk B, maka aksi sabotase termudah adalah membeli rokok B dalam jumlah besar, mungkin satu container langsung untuk disimpan di gudang yang kondisinya bisa merusak citarasa rokok tadi. Entah dalam gudang yang lembab atau berbau tajam.
Secara ndak langsung, aksi sabotase itu membuat perokok merk B tadi jadi merasa aneh dan ada kemungkinan berpaling ke merk A. Karena menurut beliau, perokok adalah tipe konsumen yang sangat loyal. Waduh... bapak warung ini cocok jadi dosen rupanya
Dan ada satu lagi pelajaran yang saya dapat dari pak warung, yaitu tentang trik menjual. Nah kejadiannya ketika seorang salesman permen mencoba menawarkan produknya ke warung milik si bapak. Saya yang sedang nongkrong disitu juga melihat gelagat si salesman ndak meyakinkan banget.
GTD vs Calendar
Keberadaan aplikasi yang menganut pola GTD (Getting Things Done) belakangan ini kehadirannya dirasakan sangat berguna, terutama bagi pekerja yang selalu dikejar oleh deadline. Namun seberapa efektifkah GTD diperlukan untuk menunjang produktivitas Anda jika dibandingkan dengan pola konvensional seperti Calendar?
Lelang Semurah-murahnya
Lelang yang ditawarkan oleh Tribber ini termasuk nyleneh. Setiap peserta diwajibkan memasang tawaran terendah dan terunik. Maksudnya gimana tuh? Jadi ketika ada barang yang dilelang, peserta boleh saja menawar seharga $0.01. Tapi pemenang yang dicari adalah peserta yang memasang tawaran ter-unik, ato peserta lain belom ada yang nawar dengan angka itu. Misal, $0.14 ato malah $2.36.
Menangkis Klien Rewel dengan Kontrak
Mau kiamat deh rasanya kalo berhadapan ama annoying client alias klien yang bawelnya ndak ketulungan. Beberapa bulan lalu saya juga ketemu kasus seorang klien yang meminta revisi tiada henti. Beruntung saya punya tameng yang namanya kontrak kerja. Sebab kalo tidak segera diatasi dengan baik, bisa-bisa waktu efektif kita terkuras untuk menangani satu klien saja.
Terkadang kita harus bisa tegas ngadepin klien tipe ini. Karena selain keinginannya nggak jelas, juga berpotensi rewel di kemudian hari.
Malah, saat ini ada rekan saya mengalami nasib serupa. Revisi tiada henti, dan parahnya, deposit pun belum dibayarkan. Tapi di satu sisi, rekan saya juga salah langkah; Ia tidak membuat kontrak sebelumnya. Jadi dalam situasi begini, lebih baik di-outsource ke pihak lain atau langsung give-up saja, sebelum jadwal pekerjaan kita yang lain menjadi amburadul.
Revisi berkali-kali itu wajar dan bukan berarti pekerjaan kita buruk. Tapi kalo udah sampai tahap "tiada henti", pasti ada yang salah. Seorang kawan saya berpendapat:
Banyak Jalan Menuju Paypal
Moneybookers tidak mengharuskan kita memiliki credit card agar verified, melainkan memasukkan kode dari surat yang dikirimkan ke alamat rumah. Meski layanan withdrawal dan shopping checkout-nya termasuk cepat, kekurangan terbesarnya ada di sisi support. Tentu saja support adalah hal yang penting. Apalagi ketika menyangkut dengan uang; hasil jerih payah kita. Hal itu membuat saya tidak begitu nyaman bertransaksi disana. Namun jangan buru-buru meninggalkan Moneybookers. Sebab pembelian credit untuk Skype dan beberapa situs stock photo masih mengandalkan jasa Moneybookers.

