Hidup diantara Padi
Kadang saya ndak menyangka kalo temen-temen saya di liga Kobamtama (baca: amatmabok) adalah orang-orang berbakat. Mereka tampak biasa-biasa saja, pun gaya bicaranya juga biasa-biasa saja. Belum pernah sekalipun saya mendengar kalimat yang tinggi dari mereka apalagi hanya untuk merendahkan orang lain. Sungguh kesederhanaan yang luar biasa. Tapi dibalik itu mereka adalah jagoan 3D, fotografer, atlet, drummer, dan banyak lagi. Tak jarang dari mereka sering mengubah hal kecil menjadi indah. Mulai dari rangkaian kalimat, pembawaan yang tenang, sentuhan mereka terhadap sesuatu, hingga ekspresi mereka saat mendengarkan lawan bicara. Saya salut sekali dengan kemampuan mereka, terutama dari "inner-handsome" mereka (yah mereka cowok sih)
Senang sekali deh kalo bisa ngumpul-ngumpul. Rasanya pengen setiap hari ngumpul terus. Dari mereka saya bisa mendapat banyak sekali ilmu dan hal baru yang belum saya tahu. Seperti halnya pada suatu malam saat saya berkumpul dengan mereka. Saya sengaja membawa kamera digital, yang jujur saja sangat jarang saya sentuh karena memang tak tahu cara menggunakannya dengan baik.
Ternyata wow! saya mendapat sesuatu pelajaran yang baru dari mereka. Meski sederhana, itu sangat berarti bagi saya. Dan mungkin untuk selamanya akan selalu saya ingat. Ingin rasanya terus bertanya, tapi ah... saya menghargai privasi mereka.
Masih terkenang di kepala saya, saat memegang kamera film SLR pertama kalinya. Orang-orang disekitar saya justru mempermasalahkan merk, dan hal-hal lain yang sifatnya sebatas peralatan. Meski saya bodoh, tapi saat itu saya paham akan hasil yang bagus dan tidak. Dan kenyataannya, seringkali mereka yang gembar-gembor tak karuan itu buah tangannya tak sesuai perkataannya.
Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Apa sih yang membedakan teman-teman saya ini dengan wannabe ato para tong kosong yang seringkali berkoar-koar untuk mendapatkan aktualisasi diri dari orang lain. Dan ohh... ternyata, salah satunya adalah The Art of Listening atau ilmu mendengarkan secara aktif.
Epictetus, seorang filosof Yunani mengungkapkan:
Kita dianugerahi satu lidah dan dua telinga agar kita mampu mendengar lebih banyak daripada bicara.
Kalo saya boleh mengungkapkan tentang makna dan apa yang saya dapat dari membaca The Art of Listening ini, kira-kira isinya seperti berikut:
Komunikasi itu sendiri merupakan proses dua arah yang dapat tercipta dengan baik apabila pembicara dan pendengar berpartisipasi aktif dalam proses tersebut. Ada berbagai cara untuk menjalin komunikasi dengan baik melalui mendengarkan secara aktif, diantaranya:
-
Mendengar secara aktif kaitannya erat dengan bahasa tubuh. Secara alamiah apabila seseorang tertarik untuk mendengarkan, akan terlihat melalui gerakan-gerakan tubuhnya. Meskipun dalam kondisi duduk dibelakang meja. Gerakan kepala dan mata dengan jelas dapat mewakili ketertarikan si pendengar. Merespon pembicaraan dengan kalimat pendek seperti "oh ya?", "mm m.." dengan diiringi bahasa tubuh yang positif akan sangat mengundang antusiasme lawan bicara. 75% dari komunikasi sifatnya adalah non-verbal.
-
Terkadang cap atas kelakuan lawan bicara dapat membuat kita secara tidak sengaja melakukan gerakan-gerakan tubuh yang sifatnya negatif. Syarat utama untuk mendengar secara aktif adalah dengan menghilangkan sejenak segala cap yang ada pada lawan bicara agar tubuh kita tidak merespon sinyal-sinyal negatif dari otak akibat pengaruh cap tersebut.
-
Umumnya manusia memiliki kemampuan untuk mendengar sebanyak 500 kata per menitnya. Sedangkan untuk berbicara, rata-rata adalah 125 hingga 150 kata per menit. Terdapat banyak sekali celah untuk memahami maksud dan tujuan dari pembicara. Manfaatkanlah dengan baik agar tidak tercipta kesalahpahaman akan maksud serta tujuan si pembicara.
-
Mendengarkan dengan empati. Empati itu sendiri adalah sebuah proses mengosongkan pikiran dan kemudian mendengarkan dengan baik agar apa yang disampaikan pembicara dapat mengisi pikiran kita. Seperti halnya kala kita mendengarkan teman yang curhat atas permasalahannya. Apabila si pembicara tahu bahwa kita mengerti isi hati yang dicurahkannya, maka itulah komunikasi yang baik.
-
Buatlah suasana senyaman mungkin saat mendengarkan. Apabila kita merasa tempat yang sekarang cukup gaduh untuk mendengar, jangan segan mengungkapkannya untuk berpindah ke tempat lainnya yang lebih nyaman. Dengan demikian, pembicara akan merasa dihargai.
-
Dan yang paling penting, jangan pernah memotong pembicaraan orang lain, atau memonopoli sebuah waktu untuk selalu berbicara. Berikanlah kesempatan lawan untuk berbicara dan mendengar.
Laksana ilmu padi yang kian berisi kian merunduk, dan kita tak pernah tahu apa dan siapakah orang yang berada disekitar kita jika kita tak mampu mendengarkan dengan baik
Kalo Google AdSense dibawah ini, termasuk kurang baik mendengar ato menterjemahkan ya?


-tikabanget-
emol..
dirimu sekarang tambah bijak..
**terharu**