Hello.

Hidup diantara Padi

Apr 17 2008

Kadang saya ndak menyangka kalo temen-temen saya di liga Kobamtama (baca: amatmabok) adalah orang-orang berbakat. Mereka tampak biasa-biasa saja, pun gaya bicaranya juga biasa-biasa saja. Belum pernah sekalipun saya mendengar kalimat yang tinggi dari mereka apalagi hanya untuk merendahkan orang lain. Sungguh kesederhanaan yang luar biasa. Tapi dibalik itu mereka adalah jagoan 3D, fotografer, atlet, drummer, dan banyak lagi. Tak jarang dari mereka sering mengubah hal kecil menjadi indah. Mulai dari rangkaian kalimat, pembawaan yang tenang, sentuhan mereka terhadap sesuatu, hingga ekspresi mereka saat mendengarkan lawan bicara. Saya salut sekali dengan kemampuan mereka, terutama dari "inner-handsome" mereka (yah mereka cowok sih) biggrin.pn

Senang sekali deh kalo bisa ngumpul-ngumpul. Rasanya pengen setiap hari ngumpul terus. Dari mereka saya bisa mendapat banyak sekali ilmu dan hal baru yang belum saya tahu. Seperti halnya pada suatu malam saat saya berkumpul dengan mereka. Saya sengaja membawa kamera digital, yang jujur saja sangat jarang saya sentuh karena memang tak tahu cara menggunakannya dengan baik.

Ternyata wow! saya mendapat sesuatu pelajaran yang baru dari mereka. Meski sederhana, itu sangat berarti bagi saya. Dan mungkin untuk selamanya akan selalu saya ingat. Ingin rasanya terus bertanya, tapi ah... saya menghargai privasi mereka.

Masih terkenang di kepala saya, saat memegang kamera film SLR pertama kalinya. Orang-orang disekitar saya justru mempermasalahkan merk, dan hal-hal lain yang sifatnya sebatas peralatan. Meski saya bodoh, tapi saat itu saya paham akan hasil yang bagus dan tidak. Dan kenyataannya, seringkali mereka yang gembar-gembor tak karuan itu buah tangannya tak sesuai perkataannya.

Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Apa sih yang membedakan teman-teman saya ini dengan wannabe ato para tong kosong yang seringkali berkoar-koar untuk mendapatkan aktualisasi diri dari orang lain. Dan ohh... ternyata, salah satunya adalah The Art of Listening atau ilmu mendengarkan secara aktif.

Epictetus, seorang filosof Yunani mengungkapkan:

Kita dianugerahi satu lidah dan dua telinga agar kita mampu mendengar lebih banyak daripada bicara.
Category: Daily ThoughtsTags: Personality, LifeComments: 1